08 April 2013

STRATEGI KEBIJAKAN PEMERINTAH VIETNAM TERHADAP KOMODITI BERAS


ASISTENSI EKONOMI INTERNASIONAL
“STRATEGI KEBIJAKAN PEMERINTAH VIETNAM
TERHADAP KOMODITI BERAS”









DISUSUN OLEH :
NINDI AGUSTIRA                          05101001003
AFRIYANI                                        05101001011
WIDI SAYANDA                             05101001027
DEKI RIMON                                   05101001032
RICHARD PRAMANA                  05101001062
EKY FRESLIANA SAGALA         05101001072
                                     


JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Menurut ilmiah beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi). (Wikipedia). Sedangkan dalam sehari – hari beras adalah makanan pokok masyarakat mayoritas di Indonesia.
Beras adalah komoditas strategis dan merupakan pangan pokok bangsa Indonesia. Konsumsi beras setiap tahun selalu meningkat seiring dengan laju penambahan penduduk. Sudah banyak upaya untuk mengerem laju konsumsi beras dengan aneka ragaman pangan lokal namun tampaknya setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Swasembada beras terjadi tahun 1984 dan dapat dipertahankan pada tahun 1990. Setelah itu peningkatan konsumsi beras tidak sebanding lagi dengan laju peningkatan produksi dan areal panen (Kasryno et al., 2001). Sejak tahun 1994 Indonesia mulai mengimpor beras lagi, dan setiap tahun ada kecenderungan peningkatan impor.
Konsumsi yang banyak oleh penduduk menyebabkan beberapa hal, diantaranya Indonesia kekurangan beras (cadangan), hanya pada tahun 2011 kita bisa  surplus. Kekurangan cadangan makanan membuat pemerintah mengadakan impor beras dari Negara – Negara yang berpenghasil beras. Vietnam merupakan Negara yang cukup banyak meng ekspor beras mereka ke Indonesia, rata – rata ssetiap tahun mampu mengirim sekitar 1,5 juta ton.
Suatu jumlah yang besar beras Vietnam ke Indonesia, ini merupakan fenomena yang unik melihat Vietnam mampu ekspor beras mereka ke Indonesia. Padahal Negara kita terkenal dengan Negara agraris yang mayoritas penduduknya adalah petani. Ironis sekali !
Permasalahan  terjadi kenapa Indonesia masih perlu cadangan beras nasional, apakah kita  kekurangan lahan untuk menanam padi? Pertanyaan ini sudah bisa kita cari jawabannya di berita – berita televisi. Beberapa yang menjadi catatan lain masalah impor beras dari Vietnam adalah apa keunggulan dari beras Vietnam dibandingkan beras yang ada di Negara kita. Selain itu bagaimana strategi pemerintah Vietnam sehingga mampu ekspor beras ke Indonesia.
Pasti ada strategi atau kebijakan pemerintah Vietnam dalam hal ini komoditi beras, hal ini menarik untuk dibahas selanjutnya. Sehingga penulis tertarik untuk membahas  tentang “Strategi Kebijakan Pemerintah Vietnam terhadap Komoditi Beras”. Dimana hasil paper ini akan menjadi referensi pembaca lainnya dan diperbaiki untuk selanjutnya.
I.2 Tujuan
1. Bagaimana strategi Pemerintah Vietnam mewujudkan ekspor beras keluar negara ?
     2. Bagaimana keadaan komoditi Vietnam saat ini dan yang akan datang ?











BAB II. PEMBAHASAN

II.2 Komoditi Beras Vietnam Masa Lalu
Vietnam adalah satu dari sedikit negara yang tetap bertahan sebagaipengekspor beras (pangan) hingga kini. Namun, belakangan Vietnam mulaimembatasi ekspor beras guna menjaga ketahanan pangan di dalam negeri pada saat kritis pangan melanda dunia sejak awal tahun 2008.
Vietnam sebenarnya belum lama masuk kelompok pengekspor beras. Bahkan, dalam sejarahnya, negeri yang pernah tercabik-cabik perang ini pernah mengalami kekurangan pangan (1985-1986) yang begitu dahsyat. Akibatnya, mereka harus mengimpor beras 1 juta ton. Namun, dengan kebijakan yang komprehensif disertai strategi yang tepat dan amdal, Vietnam berangsur-angsur menjadi salah satu negara pengekspor beras terkemuka.
Adapun kebijakan yang dimaksud adalah Kebijakan Doi Moi, yang berarti renovasi yang ditetapkan Kongres Nasional Partai Komunis Vietnam (PKV) pada 15-18 Desember 1986 dan mulai diterapkan pada tahun 1987. PKV adalah satu-satunya partai politik di Vietnam.

II.2 Kebijakan Doi Moi

Pada intinya, kebijakan Doi Moi meliputi, pertama, perubahan sistem ekonomi dari perencanaan terpusat menjadi ekonomi pasar (market force) yang berorientasi sosialis.
Kedua, mengakui kepemilik- an oleh swasta, yang sebelum- nya hanya satu, yaitu oleh negara. Dalam perkembangan- nya bahkan mengakui kepemilikan aset-aset ekonomi oleh pihak asing dengan disetujuinya Undang-Undang PMA Tahun 1087.
Ketiga, restrukturisasi BUMN dan Koperasi. Keempat, mengembangkan hubungan ekonomi internasional. Dalam kerangka Doi Moi, Pemerintah Vietnam membuat Rencana Pembangunan
Lima Tahun (Repelita ) periode 1987- 1991 dengan program utama meningkatkan produksi pangan dan bahan konsumsi lain dengan sasaran pemenuhan kebutuhan domestik dan mulai mengekspor.
Untuk pertumbuhan ekonomi (GDP) ditargetkan 6-7 persen per tahun. Kini Vietnam memasuki Repelita V periode 2005â"2010 dengan target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 mencapai 13,4 persen dan sector pertanian berkembang antara 16 sampai 17 persen. Adapun sector industri dan jasa diharapkan mencapai di atas 40 persen dari GDP.
Dengan kebijakan Doi Moi yang antara lain mengizinkan petani berproduksi sebanyak mungkin (sebelumnya dibatasi dan ditentukan oleh pemerintah), pada tahun 1989 untuk pertama kali, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, Vietnam mengekspor beras sebanyak 1 juta ton.
Selanjutnya, beras merupakan komoditas utama ekspor nonmigas. Tahun 2000 lalu Vietnam telah mengekspor 3,5 juta ton beras, disusul pada tahun 2005 mengekspor 4,5 juta ton beras.
Terkait ekspor beras dan dalam hubungan bilateral Indonesia-Vietnam, tahun 1998 saat Indonesia dilanda krisis, Vietnam membalas budi baik Indonesia yang pernah menolongnya pada tahun 1986 dengan memberi beras kepada Indonesia 10.000 ton dan meminjami 100.000 ton tanpa bunga selama satu tahun. Tahun 1986 Indonesia meminjamkan beras kepada Vietnam 50.000 ton dengan masa pinjaman dua tahun.

II.3 Kebijakan dan Strategi
Keberhasilan Vietnam dalam meningkatkan produksi dan ekspor beras tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam sektor pertanian. Kebijakan itu, pertama, memberi kesempatan seluas mungkin kepada petani untuk menggunakan atau memanfaatkan tanah sebaik mungkin (menurut konstitusi Vietnam, hanya negara yang berhak memiliki tanah) dalam berproduksi tanaman pangan.



Kedua, mengembangkan ekonomi pedesaan dan ekonomi rumah tangga. Ketiga, memberikan pelayanan yang luas kepada petani, dalam bentuk antara lain pengadaan kredit pedesaan. Keempat, meliberalisasi perdagangan, terkait beras, yaitu menghapus kuota ekspor beras dan impor pupuk.
Sementara itu, strategi yang dilakukan Vietnam dalam pembangunan beras mencakup, pertama, rehabilitasi dan peningkatan struktur dan sistem irigasi. Saat ini hampir 90 persen lahan sawah padi telah diairi dengan sistem irigasi.
Kedua, pengembangan varietas unggul. Melalui lembaga Iptek dan Bank of Agriculture Micro Biological Genes telah dikembangkan sejumlah jenis bibit padi yang unggul, termasuk jenis varietas padi unggul hibrida.
Ketiga, menyediakan lahan pertanian untuk petani miskin tanpa dipungut sewa, bahkan menyediakan pinjaman dana untuk berproduksi.
Keempat, menjamin tingkat kentungan bagi petani beras dengan membeli semua beras yang dijual jika harganya di bawah harga yang ditetapkan (floor price) dan pemerintah menarik dukungannya jika harga beras sudah mencapai harga tertinggi yang ditetapkan (ceiling price).
Kelima, memberi kesempatan kepada semua perusahaanâ" BUMN, koperasi, dan Swasta yang memegang izin perdagangan komoditas pangan atau pertanian dapat mengekspor beras dan mengimpor pupuk
Keenam, mendorong perusahaan swasta dan BUMN untuk mengadakan kontrak dengan petani, dengan ketentuan perusahaan wajib menyediakan modal, bahan baku (bibit), serta bantuan teknik kepada petani produsen dan membeli semua produksi hasil pertanian. Sebaliknya, petani yang terikat kontrak wajib menjual produknya dengan harga yang disepakati.
Ketujuh, mendirikan Kantor Pertanian dan Perdagangan (Agriculture and Trade Office) di negara-negara yang mempunyai potensi besar dalam membeli beras Vietnam.
Dengan berpegang pada kebijakan nasional, khususnya kebijakan dan strategi peningkatan dan ekspor beras, Vietnam kini menjadi negara pengekspor beras terbesar kedua setelah Thailand. Semua keputusan itu dilaksanakan secara konsisten, efektif, dan efisien serta didukung sepenuhnya oleh seluruh lembaga pemerintah dan rakyat.

II.4 Vietnam Menuju Eksportir Terbesar Beras di Dunia
Setelah melihat kebijakan dan strategi pemerintah Vietnam untuk komoditi beras,  negara ini akan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia. Vietnam tahun ini mungkin melampaui Thailand sebagai pengekspor beras terbesar di dunia, dengan perkiraan ekspor sekitar 7 juta ton beras, sementara Thailand mengekspor 6,5 juta ton.Nguyen Van Don, direktur umum pengekspor beras Viet Hung, mengatakan, sejauh ini Vietnam unggul berkat adanya jaminan harga tinggi bagi petani Thailand.
Ini karena adanya program penyimpanan dan pembelian beras guna mendukung petani Thailand. Karena itu, sekarang ini sangat sulit bersaing harga jual. Vietnam kini bersaing sangat ketat dengan India, Pakistan, dan Myanmar, terutama India.
Selain itu, buruknya panen padi di China selatan juga membantu meningkatkan permintaan beras Vietnam sehingga China pada tahun ini menjadi pembeli utama.
Saat ini perusahaannya banyak mengekspor beras ke China. Dalam beberapa tahun terakhir China mengimpor sangat sedikit, umumnya lewat jalur tidak resmi. Tahun ini mereka mulai mengimpor melalui jalur resmi. Mereka membeli dalam jumlah sangat banyak dengan cepat. Tahun ini Vietnam mungkin mengekspor lebih dari dua juta ton ke China. Itu berarti China kini adalah pasar potensial. Kualitas beras Vietnam lebih rendah dari beras Thailand dan biasanya tidak bersaing untuk pasar yang sama.
Menurut pejabat-pejabat, penurunan ekspor Thailand masih mungkin menciptakan peluang. Huynh Cong Minh, wakil kepala bagian pertanian dan pembangunan pedesaan provinsi Tien Giang, mengatakan, peluang Vietnam tidak besar, tetapi berjangka panjang guna membantu Vietnam selangkah demi selangkah mengubah struktur benih padinya, memperluas wilayah beras berkualitas tinggi guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor dalam beberapa tahun ke depan.
Pejabat-pejabat mengatakan, sekitar 45 persen wilayah di provinsi Tien Giang ditanami padi berkualitas lebih tinggi, tetapi mereka berencana secara bertahap menambah wilayah itu dan menembus pasar baru. Itu akan membantu banyak petani dan buruh tani Vietnam. Petani Nguyen Ngoc Phan telah menanam padi berkualitas tinggi selama lima tahun terakhir. Menurutnya, beras jenis itu meningkatkan penghasilannya. Dengan berpegang pada kebijakan nasional, khususnya kebijakan dan strategi peningkatan dan ekspor beras, Vietnam kini menjadi negara pengekspor beras terbesar kedua setelah Thailand. Semua keputusan itu dilaksanakan secara konsisten,
























BAB III. PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Vietnam adalah satu dari sedikit negara yang tetap bertahan sebagai pengekspor beras (pangan) hingga kini. Namun, belakangan Vietnam mulaimembatasi ekspor beras guna menjaga ketahanan pangan di dalam negeripada saat kritis pangan melanda dunia sejak awal tahun 2008.
Dengan kebijakan dan strategi pemerintah Vietnam untuk komoditi beras,  negara ini akan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia. Vietnam tahun ini mungkin melampaui Thailand sebagai pengekspor beras terbesar di dunia,

III.2 Saran
      Pemerintah memperhatikan kembali kebijakan – kebijakan terdahulu oleh pemerintah sebelumnya, karena kebijakan dan strategi pemerintah Vietnam lakukan merupakan kebijakan dan strategi negara kita dahulu. Sehingga kita optimis untuk melakukan hal yang sama dengan Vietnam  saat ini.















DAFTAR PUSTAKA





Wikipedia. Beras. Vietnam Akan Jadi Pengekspor Beras. http://id.wikipedia. org/wiki/Beras. 25 Maret 2013


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking